KEMALIQ ASSYIRIK

KEMALIQ ASSYIRIK.
Sebuah cerpen karya Baiq Ela Nurmayanti

Aku melihat sebuah papan dengan tulisan DIJUAL tanah makam seluas 3 hektar di depan pintu masuk makam. Kemudian para warga beramai-ramai untuk menolak gagasan para pejabat tersebut, lagi pula sebenarnya aku heran, memangnya kenapa kalau seandainya makam dijual? Seharusnya para warga bersyukur, toh tanah makam itu akan dijadikan sebuah pusat perbelanjaan untuk daerah perluasan kota. Dengan begitu mereka bisa mendapat lapangan pekerjaan dan kesempatan membuka usaha yang dapat menarik minat orang-orang yang datang ke Mall itu, hanya karena alasan di dalam tanah area makam tersebut terdapat sebuah makam yang disebut Kemaliq yang dikeramatkan warga.

“kami tidak akan pernah percaya pemerintah! Apa kalian mau bertanggung jawab kalau nanti Tuhan marah jika kalian membongkar makam itu?” Kata seorang warga kepada pejabat-pejabat serta orang-orang yang hendak menggusur makam.

Aku terheran, mengapa mereka mengatasnamakan Tuhan dalam menyembah makam tersebut,
“Makam siapa sih itu.” aku menggerutu dalam hati.
Perasaan benci terhadap warga mulai tumbuh dalam batinku, entah karena mereka bodoh atau karena mereka seolah-olah menyekutukan Tuhan, tapi mereka berdalih itu adalah sebuah tradisi, maka aku hanya bisa menilik mereka dari gerbang makam.
Senja mulai mengepakkan ekornya diujung barat, sedangkan antara pejabat desa dengan warga belum juga mencapai sepakat, hingga pada akhirnya pejabat desa menawarkan kesepakatan yang membuat lidah warga-warga itu terjulur, aku semakin membenci mereka lantaran munafik

“Begini saja, bagaimana kalau makam keramat itu kami pindahkan saja agar kalian bisa tetap ziarah, toh tulang belulangnya tak akan ke mana-mana, untuk itu nanti kami akan memberikan kalian sumbangan dengan dana yang besar, cukup untuk memenuhi kebutuhan kalian untuk satu tahun,”
“memangnya apa jaminan kalian?”
“tenang saja, tidak akan ada sesuatu yang buruk terjadi, ini kan untuk kemaslahatan kita bersama, dana dari kami akan segera kami luncurkan jika kita mencapai kesepakatan.” kata pejabat itu meyakinkan.

Beberapa warga ada yang setuju ada pula yang tidak, tapi karena rayuan dari pejabat itu sangat menggiurkan, maka para warga pun mencecap liur para pejabat itu dengan mengorbankan kemaliq itu untuk digusur.
“Bagaimana, pak? Bagaimana mungkin kita melakukan itu terhadap kemaliq warisan moyang kita.” Kata seorang warga ke warga lainnya.
“apa kau tidak dengar? Ini untuk kemaslahatan kita bersama, lagi pula makamnya kan dipindahkan, dan juga kita mendapatkan persenan dari mereka, lumayan buat belanja ini itu” sahut salah seorang warga di sana.

Disaat itu juga aku semakin membenci manusia-manusia munafik seperti mereka, tapi anehnya aku tak dapat menimpali mereka dengan amarahku, aku hanya bisa menatap mereka dari gerbang makam ini tanpa bergeser sedikit pun. Seketika kesepakatan itu tercapai, mobil-mobil raksasa yang sudah siap mencakar tanah makam dengan kuku-kuku besinya mulai tancap gas dan memangkas Nisan-nisan yang berbaris menghadang keserakahan mereka, tapi percuma semua makam akhirnya rata. Dan tibalah mereka akan mengggusur salah satu makam yang dianggam kemaliq oleh warga, seketika makam bergetar, tubuhku terasa sakit, nyeri seperti tercabik besi-besi, semakin dalam galiannya ke makam itu, tubuhku mulai menderu semacam lagu-lagu kematian, aku seperti memudar melihat tawa para pejabat yang kegirangan atas dibangunnya pusat perbelanjaan itu, serta keserakahan warga-warga yang tamak.

Disaat makam itu tergali lebih dalam lagi, batu nisannya terpental ke arahku, aku terdiam membisu, tak ada kata yang mampu mewakili rasa takutku atas semua ini, bagaimana tidak? Nisan itu bertuliskan Namaku, yang artinya selama ini aku lah yang dipuja-puja mereka.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEMALIQ : Situs Budaya Lombok di Ranget

Mengenal Kemaliq Ranget di Sesaot Narmada Lombok Barat